PELAJAR SMA MAOS DIBEKALI MATERI ANTI RADIKALISME

Rabu, 9 Agustus 2017 16:14:51 - oleh : dony


CILACAP - Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Cilacap menyelenggarakan sosialisasi bela negara untuk siswa SMA di wilayah Kecamatan Maos, Rabu (9/8/2017). Kegiatan ini diikuti oleh 100 pelajar, yang berasal dari SMA Negeri 1 Maos, SMK Budi Utomo Maos, dan Madrasah Aliyah Al Falah Maos. Dalam acara yang diselenggarakan di Pendopo Kecamatan Maos, panitia menghadirkan 3 orang narasumber. Yakni Kepala Badan Kesbangpol Cilacap, Wijonardi yang menyampaikan paparan umum mengenai kondisi persatuan dan kesatuan bangsa di tengah era globalisasi. Kemudian Komandan Koramil 07 Maos Kapten Infanteri Sidin membawakan materi wawasan kebangsaan. Dan Kapolsek Maos AKP Kiswoyo membawakan materi menangkal radikalisme di kalangan pemuda dan pelajar.

“Radikalisme di Indonesia dibagi dalam tiga golongan. Yakni Radikalisme kanan, kiri, dan radikalisme lain”, kata AKP Kiswoyo.

Dijelaskan, radikalisme kanan lebih dilatar belakangi agama, yang dalam militansinya terbangun berdasarkan pemahaman yang keliru terhadap ajaran agamannya. Sedangkan radikalisme kiri merupakan radikalisme yang dibangun berdasarkan kesamaan ideologi bernegara. Adapun radikalisme lain lebih bersifat separatis, yang didasari oleh kekecewaan akibat adanya ketidakadilan pemerintah. Misalnya Republik Maluku Selatan (RMS), Organisasi Pamua Merdeka (OPM), dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kiswoyo mengungkapkan, sejarah perjalanan Bangsa Indonesia tidak lepas dari ancaman kelompok ekstrem, baik kanan maupun kiri. Demikian juga saat ini, radikalisme masih menjadi isu yang mengemuka karena keberadaannya dapat mengancam siapapun, termasuk generasi muda.

“Hal ini tidak dapat dibiarkan, dan generasi muda harus mengkaji dan mencegah segala kemungkinan radikalisme di sekitarnya”, katanya.

Menurut Kiswoyo, sebagai generasi penerus bangsa, pelajar berkewajiban menjaga warisan para pendahulu, yakni Pancasila sebagai ideologi negara. Pihaknya berharap agar ideologi radikalisme tidak berkembang di Indonesia. Sebab jika generasi muda terkontaminasi ideologi ini, dikhawatirkan mereka akan kehilangan masa depan yang cerah. Hal ini dapat terjadi karena nantinya mereka akan menghabiskan energi pada kekerasan, penganiayaan, dan peperangan.(don)


Foto : Istimewa

versi cetak

Berita Kabupaten Lainnya