DISKOMINFO DAN KEMBANG JAYA PENTASKAN BABAD TANAH DONAN

Senin, 16 April 2018 11:25:09 - oleh : dony


CILACAP – Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cilacap bekerjasama dengan Paguyuban Seni dan Budaya Tradisional Kethoprak Kembang Jaya menggelar pertunjukan kethoprak di halaman LPPL Bercahaya FM Cilacap, Jumat (13/4/2018) malam. Pagelaran yang mengangkat lakon ‘Prahara Mustika Donan’ ini diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke – 162 Kabupaten Cilacap. Pimpinan dan staf Diskominfo Cilacap juga turut berkolaborasi memerankan sejumlah karakter dalam pagelaran ini.


Sekretaris Paguyuban Seni dan Budaya Tradisional Kethoprak Kembang Jaya, Sulistyanto, B.Sc dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya pelestarian seni tradisional. Dalam hal ini keterlibatan pemerintah daerah sangat diperlukan agar seni budaya adiluhung tetap lestari di tengah gempuran seni kontemporer yang kian marak. Pagelaran ini juga menjadi ajang silaturahmi antara pegiat seni, pemerintah daerah, serta para pecinta kesenian ketoprak di Kabupaten Cilacap.


‘Prahara Mustika Donan’ menceritakan babad asli sejarah Cilacap dan petualangan Santri Undik menumpas burung raksasa Garuda Beri, biang keonaran di wilayah itu. Dikisahkan, Adipati Donan Ronggo Sengoro yang diperankan Plt. Kepala Diskominfo Cilacap, Drs. Wijaya MM memiliki seorang putri yang sangat cantk bernama Sengorowati. Banyak para ksatria dan pemuda bangsawan yang berusaha meminang gadis itu, namun belum ada satupun yang mampu menawan hati Sengorowati. 


Malapetaka dimulai ketika Garuda Beri memangsa sejumlah penduduk Kadipaten Donan. Banyak wanita kehilangan suaminya, anak kehilangan orang tuanya, dan kekasih kehilangan belahan jiwanya, akibat angkara murka burung raksasa tersebut. Dari petunjuk gaib, burung raksasa tesebut hanya dapat dikalahkan dengan Cis Tilam Upih, pusaka sakti berbentuk keris kecil milik Kerjaan Demak. Hati Senggorowati tergugah, hingga akhirnya mengikrarkan sumpah. Barangsiapa dapat menundukkan Garuda Beri apabila lelaki akan dijadikan suami, dan apabila perempuan akan dijadikan saudara.


Sayembara menyebar keseluruh pelosok desa hingga sampai ke telinga Santri Undik, pengembara sakti yang tengah melakukan perjalanan spiritual. Konon perjalanan sang pengembara berkontribusi terhadap penamaan sejumlah lokasi yang hingga kini dikenal masyarakat seperti Sumur Gemuling, Bulupayung, Kahuripan, Daun Lumbung, dan sebagainya. Singkat cerita, Santri Undik menemui Adipati Ronggo Sengoro dan mengutarakan maksudnya menghabisi Garuda Beri dengan tiga syarat yang harus dipenuhi.


Berbekal Cis Tilam Upih dan segulung kain mori, Santri Undik membuat lubang setinggi manusia di tanah palagan. Hari yang ditentukan tiba, seluruh prajurit dan masyarakat bekumpul di tanah lapang untuk menyaksikan pertarungan Santri Undik dan Garuda Beri. Saat burung raksasa itu menukik untuk menyerang, Santri Undik yang telah berbalut mori masuk kedalam lubang yang dibuatnya. Besarnya tubuh Garuda tidak memungkinkan baginya menyerang Santri Undik.  Sebaliknya memberi kesempatan bagi pengembara sakti itu menusukkan senjatanya dan menghabisi burung tesebut.


Plt. Kepala Diskominfo Cilacap, Drs. Wijaya, MM mengatakan, penyelenggaraan kethoprak ini merupakan salah satu tugas pokok dan fungsi Diskominfo Cilacap dalam diseminasi informasi melalui media tradisional. Pelaksanaannya bekerjasama dengan Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Mitra), untuk menyampaikan berbagai capaian dan keberhasilan Pemkab Cilacap di berbagai bidang. Penyampaian informasi melalui seni budaya diharapkan memberikan kesan mendalam bagi masyarakat, sehingga pesan – pesan yang disampaikan dapat dipahami.(dony/kominfo)


Foto : Salah satu adegan dalam pagelaran ketoprak Prahara Mustika Donan. Plt. Kepala Diskominfo Cilacap, Drs. M. Wijaya, M.M memerankan Adipati Donan Ronggo Sengoro.

versi cetak

Berita Kabupaten Lainnya