ANTISIPASI PERSEBARAN HOAX, MASYARAKAT DIHIMBAU BERTABAYYUN DIGITAL

Senin, 14 Mei 2018 15:07:08 - oleh : dony


CILACAP - Rendahnya minat baca masyarakat menjadi salah satu katalisator kerawanan dampak berita hoax. Hal tersebut diungkapkan Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cilacap, Drs. M. Wijaya, M.M, selaku narasumber Focus Group Discussion (FGD) Antisipasi Berita Hoax dan Ujaran Kebencian yang diselenggarakan Polres Cilacap, di Hotel Dafam Cilacap, Senin (14/5/2018).


"Kita tahu minat baca masyarakat masih rendah. Terlebih ketika membaca berita melalui gadget hanya sekilas tanpa klarifikasi. Ini tentu bisa menjadi sasaran empuk persebaran hoax", kata Wijaya.


Menurut Wijaya, saat ini Kementerian Komunikasi dan Informatika mengkampanyekan gerakan Komunikasi Melawan Hoax. Upaya yang dilakukan antara lain mendorong Gerakan Tabayyun Digital. Masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang masih diragukan kebenarannya. Apabila diperlukan, yang bersangkutan wajib mengecek kebenarannya kepada pihak terkait.


"Dalam ajaran agama apapun, menyebarkan berita bohong atau diragukan kebenarannya merupakan kegiatan tidak berguna, bahkan bisa menimbulkan dosa", tambahnya.


Selain dari Diskominfo Cilacap, penyelenggara menghadirkan Dosen Universitas Nahdatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap, KH. Shoim El Amin Lc, dan aktivis Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Astin Mei Ningsih sebagai narasumber. Senada, KH. Shoim menegaskan, Islam menganjurkan agar umatnya tidak menerima informasi mentah-mentah, serta membuktikan kebenarannya.


“Al Quran dan hadis sahih menegaskan bahwa umat Islam wajib tabayyun. Allah telah meletakkan kaidah bagi umat-Nya agar terpelihara dari perpecahan”, jelasnya.


Sementara itu aktivis Mafindo, Astin Mei Ningsih dalam paparannya mengungkapkan, sekitar 60 % informasi yang beredar melalui media sosial merupakan hoax. Oleh karena itu literasi terhadap pentingnya kritis atas informasi elektronik dan hoax perlu diperdalam. Masyarakat juga perlu menanamkan budaya malu atau merasa salah apabila membagikan tautan informasi hoax.


“Saat ini, kami dari Mafindo telah meluncurkan aplikasi facts checker bernama ‘Hoax Buster Tools’. Ini merupakan aplikasi berbasis android dan dapat diunduh di Play Store. Di dalamnya terdapat berbagai fitur untuk mendeteksi konten yang bersifat hoax”, katanya.


Kapolres Cilacap AKBP Djoko Julianto dalam sambutan yang dibacakan Kabag Ren, Kompol Noor Yadi mengatakan, persebaran berita hoax perlu diwaspadai dan dicegah, karena dapat menimbulkan kerusuhan dan ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah. Oleh karena itu kepolisian meminta dukungan masyarakat agar bersama sama memerangi hoax dan ujaran kebencian.


“Berita hoax itu berita bohong dan dapat menimbulkan kerusuhan serta disorientasi atas mana yang benar atau salah serta anarkhis mental. Mari sama sama kita tolak berita hoax dan ujaran kebencian yang sangat menganggu”, tegasnya.


FGD dihadiri perwira jajaran Polres Cilacap, Forkopimda, dinas/instansi terkait, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cilacap. Hadir pula tokoh agama dan tokoh masyarakat, serta Bhabinkamtibmas Polsek jajaran. Di akhir acara, seluruh perwakilan unsur masyarakat menandatangani Deklarasi Anti Hoax dan Ujaran kebencian.(dony/kominfo)


Foto : Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cilacap, Drs. M. Wijaya, M.M tekankan literasi pentingnya kritis terhadap informasi elektronik bersifat hoax dalam FGD Anti Hoax dan Ujaran Kebencian, Senin (14/5/2018)

versi cetak

Berita Kabupaten Lainnya