Pemkab Cilacap Genjot Penurunan Stunting
Pemkab Cilacap Genjot Penurunan Stunting

Pemkab Cilacap Genjot Penurunan Stunting

CILACAP – Indonesia   saat   ini   tengah   bermasalah   dengan   stunting.   Hasil   Riset Kesehatan    Dasar    (Riskedas)   2013   menunjukkan    prevalensi    stunting mencapai 37,2% dan tahun 2018 sebesar 30,8%, Kabupaten Cilacap masuk 100 Kab/Kota Lokus stunting se Indonesia. Data di Kabupaten Cilacap 36,3% (Rikesdas 2013) dan 32,1% (Rikesdas 2018).   Stunting akibat gagal tumbuh pada balita karena  kekurangan  gizi kronik, sehingga anak lebih pendek dari usianya. Dimana kekurangan gizi dimaksud adalah kekurangan gizi pada masa 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) atau sejak dalam kandungan hingga sampai umur 2 (dua) tahun yang lebih dikenal dengan baduta. Stunting merupakan tanggung jawab bersama , dan harus dicegah bersama-sama, komitmen , penguatan kerja lintas sektor / lintas program  serta dilaksakan terintegrasi dalam menurunkan stunting di Kabupaten Cilacap.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, dr.Pramesti Griana Dewi,M.Kes,M.Si  pada  acara  Pertemuan Penguatan Lintas Program,Lintas Sektor  Kecamatan dan Kabupaten dalam Penanggulangan Stunting di Kabupaten Cilacap, Kamis (27/02) di Hotel Sindoro Cilacap.

Lebih lanjut menurur  dr.Pramesti Griana Dewi, dari data  riil di lapangan hasil  Pemantauan Status Gizi (PSG) Kabupaten Cilacap melalui penimbangan serentak pada bulan September 2019 terdapat   6152 (4,86%) anak stunting (sangat pendek 1114 balita dan pendek 5038 balita).  Berdasarkan data tersebut maka pada tahun 2020 ditetapkan 10 desa/kelurahan baru yang menjadi lokus stunting, dengan SK Bupati Cilacap, No.444/223/Tahun 2020 tertanggal  9 Januari 2020. Namun 10 desa lokus stunting tahun 2018 – 2019 tetap menjadi pantauan dan tetap meneruskan kegiatannya dalam mencegah dan menurunkan stunting karena kasus stunting belum tuntas ( masih terdapat kasus stunting). “Untuk itulah pada hari ini dikumpulkan baik tingkat    Desa, Kecamatan dan Kabupaten agar berkomitmen , saling bergandengan tangan dan bekerjasama bau membahu serta sama-sama bekerja dalam mencegah dan mengatasi stunting di Kabupaten Cilacap, mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan pengendalian.”tambahnya.

Pramesti menambahkan, bahwa dampak dari stunting   anak akan mengalami 3 (tiga) G yaitu gangguan pertumbuhan, perkembangan dan metabolik. Gangguan metabolic akan muncul ketika dewasa yang menimbulkan penyakit   tidak   menular   seperti   jantung,   stroke, diabetes  atapun gagal ginjal dan menyebabkan kegemukan sehingga mengakibatkan pengeluaran yang tinggi dalam pembiayaan jaminan kesehatan berkaitan dengan PTM (Penyakit Tidak Menular).

Kepala Seksi Kesehatan keluarga dan Gizi   Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap,Endah Puspitowati,SKM.M.Kes dalam laporanya mengatakan, tujuan kegiatan  yakni  Peningkatan Komitmen dan penguatan peran lintas sektor / lintas program di tingkat kecamatan dan Kabupaten Cilacap. Sekaligus   Peningkatn Penguatan  pelaksanaan pencegahan dan Intervensi spesifik / sensitive ditingkat kecamatan maupun Kabupaten Cilacap, serta penguatan regulasi stunting dan implementasi pelaksanaan. Kegiatan tersebut diikuti sebanyak  104 orang, yang terdiri dari lintas sektor / lintas program  Kabupaten, dan Kecamatan, Peserta Desa Lokus Stunting. Narasumber  dari Bappeda dengan materi Review pelaksanaan 8 Aksi Stunting (Peran OPD), Dinkes menyampaikan  materi tentang Kegiatan Penanganan spesifik dan sensitive , sedang  Dispermades dengan materi Regulasi Tentang Penggunaan Dana Desa dalam Penanggulangan stunting .(Arin/Kominfo)

[pvcp_1]

Arin Nastuti

DISKOMINFO REPORTER TEAM

Leave a Reply