Pertamina RDMP dipantau Menkopolhukam

Dihadang Covid-19, RDMP Pertamina RU IV Cilacap Tetap Berlanjut

CILACAP – Pemerintah Republik Indonesia berharap pandemi Covid-19 yang tengah melanda masyarakat global tidak berdampak terhadap pembangunan infrastruktur. Hal itu disampaikan Staf Ahli Bidang Ketahanan Nasional Menkopolhukam, Marsekal Muda TNI Ahmad Sajili dalam kunjungan kerjanya di Cilacap, Kamis (25/6).

Salah satu proyek strategis nasional di Kabupaten Cilacap yang menjadi perhatian adalah Refinery Development Masterplan Program (RDMP) Pertamina RU IV Cilacap. Meski kerjasama dengan ARAMCO batal, Pertamina telah memutuskan untuk melanjutkan proyek ini tanpa raksasa minyak asal Arab Saudi tersebut.

“Ini adalah upaya pencarian data kami di Polhukam terkait dengan Proyek Strategis Nasional. Perlu diketahui, di sini ada pembangunan RDMP Pertamina RU IV Cilacap yang nantinya terbesar di Asia Tenggara”, jelasnya.

Menurut Ahmad, letak proyek RDMP sangat strategis karena berada di antara Cina sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia dengan benua Australia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor Polhukam, khususnya dalam pertahanan dan keamanan negara. Untuk itu pihaknya berkepentingan untuk mengetahui sejauh mana progres perkembangan proyek ini.

Pertamina RDMP dipantau Menkopolhukam
Bupati Tatto S. Pamuji mengungkapkan, Cilacap menjadi salah satu pusat kegiatan nasional dengan adanya RDMP Pertamina RU IV Cilacap.

Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji menjelaskan, Kabupaten Cilacap memiliki berbagai sumberdaya yang potensial. Sebagai kawasan ekonomi khusus, di dalamnya ada beberapa proyek strategis nasional, salah satunya RDMP. “Jika Indonesia ingin maju, bangunlah Cilacap. Jika Cilacap mau maju, bangunlah desanya. Itu inti dari Bangga Mbangun Desa”, kata Bupati.

Head Project Manager RDMP, Ari Dwikoranto menjelaskan, RDMP merupakan proyek pengembangan kilang pengolahan minyak dengan nilai mencapai Rp 80 trilyun. Meski tanpa kerjasama dengan ARAMCO, Pertamina tetap akan melaksanakan pengembangan kilang dengan rekanan lain dalam enam tahap.

“Tahap pertama telah dimulai sejak Januari 2020. Nilainya mencapai Rp 8 trilyun rupiah”, jelasnya.

Setelah proyek ini selesai nantinya kilang yang kini berkapasitas 1 juta barrel per hari akan meningkat dua kali lipat menjadi 2 juta barrel per hari. Dengan demikian Pertamina dapat mencukupi kebutuhan BBM tanpa impor. Sehingga target Pertamina untuk setop impior BBM pada 2026 dapat terlaksana.(dn/kominfo)

Baca juga : Pertamina Serahkan Bantuan 7.500 Paket Sembako Untuk Warga Terdampak Covid-19


Jumlah Pengunjung : 85